Banjir Bandang di Desa Growok

Hari ini saya ditelpon Mbakyu Ruminah yang mengabarkan bahwa Desa Growok dilanda banjir bandang. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa rumahnya tergenang dan bahkan beberapa tetangga lebih parah lagi. Desa-desa lain seperti Sumberarum, kunci, Jatiblimbing lebih parah lagi. 

Selain mengenangi rumah ratusan hektar tanaman yang baru tumbuh tidak luput dari amukan air bah ini, dan sirnalah harapan para petani termasuk Mbak Ru hanya untuk bisa sekedar makan jagung. Kekeringan yang baru usai dihadapi, justru dikejutkan dengan kenyataan yang lebih pahit lagi. Entah apa yang bisa dimakan untuk esok hari dan lusa.

Saya jadi termenung, Hah ……….. banjir bandang ? Saya seolah tidak percaya dengan berita ini, wong sungai saja nggak ada kok bisa banjir. Kalau Sungai Bengawan Solo yang banjir itu sudah biasa dan menjadi menu rutin. Tapi kalau Desa Growok yang diterjang banjir, maka timbul pertanyaan di benak saya kenapa…?

Memang sih kalau dilihat ke belakang, banjir tentunya tidak datang secara tiba-tiba. Pembalakan hutan, perubahan iklim dan pemanasan global dituding menjadi penyebabnya.

Kalau soal perubahan iklim dan pemanasan global yang sudah menjadi issue dunia tidak perlu dibahas karena semua orang sudah menyadari hal tersebut. Justru yang menjadi sorotan adalah pembalakan hutan yang sangat parah di wilayah selatan wilayah ini. Hutan yang dulunya ( pada waktu saya kecil ) masih ijo royo-royo, sekarang “habis” tidak berbekas karena dijarah.

Setahu saya sampai tahun 1986, di hutan jati ini masih banyak terdapat berbagai jenis binatang seperti rusa, celeng, berbagai jenis burung, Ayam hutan dan binatang hutan lainnya. Bahkan pada saat itu untuk pergi mencari kayu bakar atau mengembala kambing di hutan, saya tidak berani pergi sendirian akibat lebatnya hutan dan masih banyak binatang buas.

Namun sekarang kondisinya memang sudah sangat jauh berubah. Hutan yang dulunya ijo royo-royo hanya tinggal kenangan dan hanya menyisakan nostalgia masa lalu. Rasanya terlalu naif jika hanya menyalahkan masyarakat sekitar yang notabene masih saudara-saudara dan kerabat saya juga. Kemiskinan, pendidikan yang rendah, kebodohan dan sulitnya mendapatkan pekerjaan mungkin menjadi salah satu penyebab kenapa mereka menjarah hutan.

Semuanya sudah terjadi, tinggal bagaimana kita menatap masa depan yang lebih baik. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran buat kita semua baik masyarakat maupun pemerintah.

Bersabarlah wahai saudaraku …… 

Berikut cuplikan berita dari web resmi Pemerintah kab Bojonegoro : 

Hujan deras yang mengguyur Bojonegoro Sore kemarin mengakibatkan 2 Kecamatan diterjang banjir bandang. Kerugian akibat hujan deras yang disertai banjir bandang ini belum diperkirakan secara pasti. Demikian diungkapkan oleh Kepala Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Kabupaten Bojonegoro, Pudjiono, melalui Kasubdin Humas dan Media Informasi Dinas Infokom, Johny Nur Hariyanto Selasa (4/12) pagi.

Dilaporkan hujan deras yang terjadi sore kemarin mengakibatkan banjir bandang di Dua Kecamatan yakni Kecamatan Dander dan Sukosewu. Menurut Johny kerusakan  terparah aibat banjir bandang ini terjadi di Kecamatan Dander. Dikatakan terjangan banjir bandang di Desa Dander  750 rumah dan 50 hektar tanaman padi tergenang. Desa Sumberarum banjir bandang menerjang 20 hektar tanaman padi dan 5 hektar tanaman palawija. Desa Growok 50 rumah tergenang dan 10 hektar tanaman padi juga diterjang banjir. Masih dalam penjelasannya, Johny mengungkapkan bahw 850 rumah dan 15 hektar tanaman padi menjadi korban di Desa Kunci. Selain itu banjir bandang juga mengakibatkan 14 ekor kambing hilang dan 1 buah rumah mengalami kerusakan total. Untuk di Desa Jati Blimbing, 1 buah jembatan di Dukuh Jatisari mengalami longsor dan 2 hektar tanaman padi serta 350 rumah penduduk tergenang air. Sedangkan untuk Kecamatan Ngraseh kerusakan akibat terjangan banjir bandang mengakibatkan 50 rumah penduduk,  10 hektar  tanaman padi serta 1 kios pupuk tergenang.

Kasubdin Humas dan Media Informasi Dinas Infokom, mengungkapkan bahwa sampai saat ini belum dapat memastikan kerugian materi akibat banjir bandang. Akan tetapi secepatnya data mengenai kerugian akibat banjir bandang dapat diketahui. Dijelaskan pula banjir ini diakibatkan oleh kondisi wilayah yang berada di dataran rendah juga dikarenakan resapan air tidak maksimal diakibatkan kerusakan lahan hutan diwilayah Kecamatan Temayang dan sekitarnya. Masih dalam penjelasannya, Kasubdin Humas dan Media Informasi Dinas Infokom mengungkapkan bahwa selama satu hari ini pihaknya akan membuka dapur umum di dua wilayah ini dan pagi ini juga akan menyerahkan bantuan mie instant untuk para korban.

Sementara itu Bupati H.M. Santoso didampingi Kepala Badan Keluarga Berencana dan Kesejahteraan Sosial  M. Maftuch setelah mendengar laporan langsung meninjau lokasi banjir bandang. Malam tadi bupati beserta rombongan langsung menuju Desa Kunci Kecamatan Dander untuk melihat ruas jalan sepanjang 500 meter yang tergenang banjir dengan ketinggian mencapai 1 meter. Setelah melihat dari dekat kondisi banjir bandang di Kecamatan Dander, Bupati juga berkenan meninjau Desa Kali Cilik Kecamatan Sukosewu yang juga dilanda banjir , setidaknya 30 rumah penduduk tergenang banjir. (Humas)

Leave a Reply